Mari ubah mimpi menjadi tujuan

Dec 15 2013

JAKARTA. Orang bijak bilang, tanpa tujuan hidup, Anda bagai perahu tanpa arah. Demikian pula dalam perencanaan keuangan. Sebelum menyusun sebuah perencanaan keuangan, setiap orang kudu menentukan tujuan keuangannya dahulu.

Ada beberapa alasan yang membuat seorang individu atau keluarga harus menyusun tujuan keuangan. Yang utama, kebutuhan manusia bersifat tak terbatas, sementara penghasilan kita terbatas. Tujuan keuangan membantu kita mengalokasikan pendapatan agar tujuan-tujuan keuangan yang jadi prioritas utama tetap bisa tercapai meskipun dengan pendapatan yang terbatas.

Jangan salah, orang kaya pun memerlukan tujuan keuangan ini. Faktanya, di zaman sekarang, banyak orang yang punya uang tapi tidak tahu mau diapain.

Sejatinya, menentukan tujuan keuangan bukanlah hal yang pelik Hanya saja, banyak orang tak memahaminya. Kesalahan yang sering terjadi, kita sering mencampuradukkan antara impian dan tujuan keuangan.

Menurut para perencana keuangan, sebuah tujuan keuangan harus spesifik.Tujuan keuangan juga harus menyebut nilai uang tujuan itu dan jangka waktu atau target pencapaiannya. Ambil contoh, seseorang ingin memiliki rumah di kawasan elite. Keinginan ini hanya akan menjadi angan-angan jika orang itu tidak mengubahnya menjadi tujuan yang lebih spesifik.  Idealnya, rumusan tujuan keuangan semacam ini adalah: “Saya ingin punya rumah di kawasan Pondok Indah yang harganya Rp 5 miliar dalam lima tahun lagi”.

Selain rumah, tujuan keuangan seseorang bisa sangat beragam. Sebut saja menikah dengan acara meriah, mempersiapkan dana kuliah anak di luar negeri, membeli mobil mewah, atau pelesir ke luar negeri.

Mengingat pendapatan bersifat terbatas, tentu saja, kita harus menentukan urutan prioritas tujuan-tujuan keuangan tersebut. Yang perlu menjadi perhatian dalam menetapkan prioritas kebutuhan hidup, kita harus mengutamakan pengeluaran yang memang perlu (need) ketimbang keinginan (want). Dalam menyusun tujuan keuangan, seseorang perlu mempelajari dahulu kebiasaan hidupnya. Sebab, ini terkait erat dengan prioritas mereka.

Umur dan status pernikahan juga menentukan prioritas tujuan keuangan seseorang.  Prioritas seorang pria lajang dan seorang bapak dari dua anak tentu berbeda. Lazimnya, saat masih lajang, tujuan keuangan utama adalah menikah, membeli rumah, dan membeli kendaraan bermotor. Setelah menikah, prioritas kebutuhan hidup berubah menjadi biaya pendidikan anak dan dana untuk persiapan pensiun di masa datang.

Oh, iya, dalam menyusun tujuan keuangan di masa datang, kita tidak boleh melupakan faktor inflasi.  Nilai rupiah sebuah tujuan investasi harus sudah memperhitungkan asumsi inflasi tahunan hingga tujuan itu tercapai. Ambil contoh, Anda ingin memasukkan anak ke universitas 17 tahun lagi.  Jika saat ini biaya masuk kuliah Rp 60 juta, dengan inflasi 15% per tahun, 17 tahun mendatang, biaya itu akan membengkak jadi Rp 645 juta!

Yang tak kalah penting, setelah merumuskan beberapa tujuan keuangan, kita harus mengelompokkan tujuan-tujuan itu berdasarkan jangka waktunya. Yakni, tujuan jangka pendek untuk kebutuhan hidup antara satu hingga tiga tahun, jangka menengah untuk tiga sampai lima tahun, dan tujuan jangka panjang untuk kebutuhan lebih dari lima tahun.

Jangka waktu dan profil risiko

Setelah merumuskan tujuan-tujuan keuangan yang spesifik, tugas kita berikutnya adalah menyusun strategi untuk mencapai berbagai tujuan tersebut.  Dalam penyusunan strategi ini, umumnya, kita akan menentukan alokasi dana bulanan yang akan kita investasikan dan instrumen investasi yang akan kita pilih agar tujuan keuangan itu bisa tercapai. Logikanya, semakin besar nilai tujuan investasi dan semakin pendek jangka waktunya, seseorang harus mengalokasikan dana bulanan lebih besar. Pilihan lain, ia harus memburu instrumen investasi yang memberikan imbal hasil tinggi.

Tapi, selain jangka waktu dan nilai tujuan investasi, ada faktor lain yang harus kita perhatikan, yaitu profil risiko. Gampangnya, ini adalah tingkat kerelaan seseorang memikul risiko kerugian investasi.

Para perencana keuangan sering membagi profil risiko seseorang menjadi tiga kelompok besar, yakni konservatif, moderat, dan agresif.  Orang yang cenderung konservatif, tentu saja, sebaiknya tak terlalu banyak berinvestasi di instrumen yang memiliki risiko tinggi seperti saham. Reksadana pendapatan tetap (berbasis obligasi) dan reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan utama golongan konservatif ini.  Sementara, orang yang agresif lebih leluasa memilih instrumen investasi karena ia berani memikul risiko tinggi.

Perlu Anda ingat, sebagus apa pun, sebuah rencana sering tak bisa tercapai. Sebab, ada banyak godaan yang bisa membuat Anda tidak disiplin.  Karena itu, setiap orang harus memiliki cara jitu yang bisa meredam keinginan untuk mengusik alokasi dana yang sudah masuk rencana investasi.

Para perencana keuangan menyarankan agar dana untuk mencapai tujuan investasi itu disisihkan. Jadi, jangan menunggu ada sisa dana! Agar bisa disiplin berinvestasi secara bertahap, kita juga bisa memanfaatkan auto debet bank.

Selamat menyusun daftar tujuan-tujuan finansial Anda. Jika masih bingung memulainya, Anda bisa bertanya kepada para perencana keuangan yang akan hadir dalam ajang Indonesia Financial Expo & Forum (IFEF) 2013. Ini adalah acara pameran dan edukasi investasi terbesar di Tanah Air yang digelar oleh KONTAN dan Debindo. IFEF 2013 akan berlangsung di Gramedia Expo, Surabaya, pada 27 September-29 September 2013 dan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada 4 Oktober – 6 Oktober 2013.
Link :   http://personalfinance.kontan.co.id/news/mari-ubah-mimpi-menjadi-tujuan

Sumber Ilustrasi: www.shutterstock.com

 

 

 

Leave a Reply

Name

Mail (will not be published)

Website